Untuk Apa Puisi Ini
Puisi ini,
untuk apa harus tercipta. jika ibu-bapak
di rumah masih saja membakar diri di bawah panas matahari. dan saudara
lelakiku, tidak punya banyak pilihan selain menjual diri di tambang emas
milik amerika.
untuk apa, jika sahabat-sahabatku sekarat di muka
zaman. keluar malam-malam, untuk sekedar bernyanyi dengan pelacur taman
kota, tentang amuk birahi yang membabi-buta. atau sekedar untuk bercumbu
kecil dengan pacar-pacar mereka yang masih belum mengerti apa itu
dunia.
untuk apa puisi ini, jika bibiku bersikukuh kembali
lagi ke saudi menjadi tkw, setelah setahun lalu disiksa majikannya
sampai berlari pulang ke kampung halaman, hanya membawa isak yang
tertahan.
pamanku, kau mungkin tak percaya. ketika pulang
sebentar ke rumah, ia lupa bagaimana mengucapkan bahasa ibu-nya sendiri.
hidup lebih dari 10 tahun perantauan tanpa tuju yang pedih, memaksanya
mengganti seluruh kata dalam kamus masa kecilnya dengan kamus bagaimana
bertahan hidup.
untuk apa puisi ini jika yang kusebut keluarga, salah
satu dari mereka ada yang mengangkat parang hendak menggorok leher
bapakku, hanya karena sejengkal tanah.
untuk apa, untuk apa puisi ini? keluargaku tidak ada yang mengerti tentang puisi.
mereka pasti kecewa, jika nanti aku hanya pulang membawa sepenggal puisi dari sini.
kampungku tidak butuh puisi. tidak, kampungku harus butuh puisi. tidak, kampungku tidak akan pernah butuh puisi.
nasib puisi ini. harus kubawa ke mana. di kampungku
siapa yang peduli tentang aliran makna di balik kata, siapa yang percaya
pada penyair?
untuk apa puisi ini, jika aku, hanya sanggup mengeja kekalahan.
untuk apa jika tidak ada yang mau membaca dalam-dalam.
keluargaku dan keluargamu, kampungku dan kampungmu sama saja
Komentar
Posting Komentar